Anak adalah Anugerah yang diberikan kepada setiap orang dan tidak akan bisa digantikan oleh apapun baik itu dengan harta sekalipun. Dan tidak ada istilah “mantan anak” yang ada adalah “mantan istri atau selingkuhan”
Begitupun rasanya pegel-pegel, rasa bosen, kelelahan dalam bekerja setelah bertemu anak-anak rasanya semuanya yang saya sebutkan diatas akan ilang tanpa bekas. Dan mumpung mereka masih kecil, masih imut, masih lucu-lucunya lebih baik aku habiskan semua kesenanganku pada mereka, soalnya terkadang bila anak sudah mulai tumbuh lebih dewasa dan mempunyai banyak kawan maka perubahan sifat juga akan mengikutinya dan hal ini sudah saya baca sejak anak saya yang bungsu (kelas dua SD) saat kemarin lusa menjemputnya.
Sebenarnya salah siapa ya? Atau istilah “buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya” terbukti benar? Terus terang saya emang usilan dan jahiliah dan tidak bisa saya pungkiran dimanapun saya berada tapi kenapa hal ini bisa nurun pada anak saya yang masih belia?
Saat itu mendung sang bungsu saya jemput disekolahnya yang cukup jauh dari kerjaan saya, setelah dijemput maka sayapun berdua harus segera menjemput sang sulung kesekolahnya yang juga jauh jadi didalam perjalanan kami berdua ngobrol ngarul –ngidul.
Bungsu : “ Pah tadi Inda disekolah nyanyi Garuda Pancasila”
Saya : “Inda Bisa?”
Bungsu : Bisa tapi Inda tambahin diakhir lagunya dengan lagunya band Netral “Garuda Didadaku”
Saya : “ melonggo…. Sambil senyum-senyum, terus berucap” lho kok gitu apa gurunya ndak marah?”
Bungsu : “ndak, malah bilang “bagus”
Saya dan bungsu : hihihihihihihihihihi……
Syairnya jadi seperti ini :
GARUDA PANCASILA, GARUDA KEBANGGANKU, KUYAKIN HARI INI PASTI MENANG!!!!
Setelah sampai disekolahnya sang sulung kita berdua sempet makan sate sekolahan cukup murah dan menyehatkan apalagi sibungsu pasti kecapaian dan lelah wong nyanyinya lagu ROCK.. Yeachh.. salam tiga jari dan bener sepuluh tusuk sate berisi empat potongan ludes dibabat tuntas sampai-sampai penjual satenya bilang “ndak dimakan sekaliankah tusuk satenya hihihihihihihihi” untung saja sibungsu tidak ngamuk, kalau ngamuk bisa ditusuk sama tusuk sate paklenya sendiri….
Setelah puas ngebabat sate dan perang urat saraf dengan sang penjualnya si bungsu langsung menuju ke kelasnya sang sulung dan duduk2 santai disebuah taman dan saya mandampingi disampingnya.
Lama diem tahu-tahu didepan kami lewat anak SD lebih besar, tinggi dan item. Setelah lewat saya lihat sibungsu cengar -cengir aja.
Saya : napa ade cengar-cengir?”
Bungsu : Malah cengar-cengir ndak karuan…
Saya : Makin maksa nanya “Napa sih de?”
Dan sibungsu tanpa perasaan berdosa Cuma bilang begini : “Pah yang lewat tadi tuh kingkong kah?”
Saya : whakakakakakakakaka, dalam hati saya Cuma bilang “sableng”
Terus tanpa terduga ada seorang guru, laki-laki, tua , pakai kacamata tersandung saat berjalan dikoridor. Dan tanpa saya duga juga sibungsu nyeletuk agak sedikit nyaring tanpa ada titik komanya lagi :
“ kok sudah tua, kacamataan masih juga kesandung begitu dan jadi guru lagi !!!!”
sayapun langsung mengelandangnya menjahui pelototan guru yang terjatuh tadi sambil ketawa-ketiwi bersama sibungsu..hiihihiiihihi
Ah… inilah salah satu hari teraneh dan menyenangkan bagi saya dan sibungsu. Sama-sama eroor… wah gawat!!!!















